Singkal Kerbau yang Tetap Eksis

Sistem bajak sawah tradisional yang masih dipertahankan di Desa Kediren (dok/bas)

Kediren - Membajak sawah menjadi salah satu proses yang dilakukan oleh para petani atau petambak setelah musim panen tiba. Tujuannya
untuk menggemburkan tanah dengan membawa tanah bagian dalam yang lebih subur ke permukaan. 

Pada awal masa petanian mulai berkembang, masyarakat lebih banyak menggunakan bajak tradisional dengan tenaga kerbau (singkal) dan cangkul. Namun seiring dengan inovasi dan perkembangan teknologi yang semakin modern, sistem penggemburan tanah saat ini sudah mulai bergeser dengan menggunakan mesin diesel (traktor).

Fenomena tersebut juga terjadi di Desa Kediren. Saat ini terdapat beberapa warga yang biasa menawarkan jasa membajak sawah dengan menggunakan mesin traktor. "Saiki ono traktor papat nang Deso Diren - sebutan Desa Kediren," kata Moh. Nur Huda, Kasi Keuangan Desa Kediren. Menurutnya, dari keempat unit traktor yang ada, 1 unit di antaranya milik Desa Kediren, yang merupakan hasil hibah dari Pemkab Lamongan, sedangkan 3 lainnya dimiliki dan dioperasikan oleh pihak perseorangan.

Modernisasi menggunakan mesin traktor (ilustrasi)

Sistem penggemburan tanah dengan menggunakan mesin traktor dinilai lebih cepat serta hasil yang lebih merata. Namun demikian, bukan berarti sistem singkal lantas dilupakan begitu saja. Susahnya medan yang harus dilewati menuju lahan yang akan dibajak biasanya menjadi alasan mengapa singkal tetap diminati petani

Lebar pematang sawah (galengan) sekitar 1 meter yang terletak di antara satu sawah dengan sawah lainnya tentu saja tak cukup untuk dilewati oleh mesin traktor. Di sinilah sistem singkal menjadi pilihan alternatif petani untuk membajak lahannya.

Kondisi alam inilah yang menjadi berkah tersendiri bagi Sarjo (47), warga RT 01/01 Desa Kediren. Dia menjadi satu-satunya warga Desa Kediren yang menawarkan jasa membajak sawah dengan sistem singkal. 

Berbekal 2 ekor kerbau yang dimilikinya, Sarjo bisa melayani hampir semua permintaan jasa membajak sawah yang dia terima. Permintaan tersebut akan meningkat manakala masa jeda tanam tiba, sesaat setelah musim panen.

Tingginya permintaan karena musim panen yang hampir bersamaan terkadang membuat beberapa permintaan nyingkal (aktivitas singkal) tak terlayani. "Tahun wingi aku njaluk Sarjo nyingkal yo gak iso," kata Ngatmijan (67), salah satu petambak sukses saat ditemui usia panen kemarin (26/3/2017). 

Lokasi lahan yang tak terjangkau oleh traktor menjadikan singkal sebagai satu-satunya solusi. "Ngene iki, nek gak singkal, yo gak iso. Alhamdulillah, tahun iki iso (njaluk Sarjo nyingkal), tambahnya.

Baik membajak sawah dengan mesin traktor maupun sistem singkal tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Traktor dinilai lebih cepat dan hasil yang lebih merata, namun tidak mampu menjangkau semua lahan.

Sedangkan sistem singkal dinilai lebih ramah lingkungan serta mampu melewati medan yang sempit, namun tidak sepraktis dan secepat traktor. Dengan kelebihan yang dimilikinya, sistem singkal diyakini akan tetap eksis di tengah perkembangan teknologi yang semakin modern. [bas]
 
Kontributor Bassorich
Editor Tim Redaksi
Lebih baru Lebih lama