Permintaan Meningkat, Usaha Benur Vaname Semakin Untung

Pelda Imam Syafi'i menunjukkan ratusan kantong benur udang vaname siap didistribusikan ke para pembeli di Desa Kediren dan sekitar (dok/bas)
 

Kediren - Budidaya udang vaname menjadi salah satu mata pencaharian yang dilakukan oleh para petani tambak di wilayah Kabupaten Lamongan. Terutama daerah-daerah yang memiliki distribusi air yang melimpah seperti Desa Kediren dengan aliran sungai Bengawan Solo.

Usaha budidaya udang vaname saat ini dianggap lebih menguntungkan. Masa pemeliharaan yang lebih cepat menjadi salah satu pertimbangan. Usia 60-90 hari sudah bisa dipanen. Selain itu, keuntungan yang diperoleh para petani tambak juga lebih besar dari pada budidaya bandeng, tombro, nila, maupun udang windu.

Para petani tambak biasanya membeli benur vanami dari lokasi pembibitan yang lumayan jauh, yaitu di Kecamatan Karanggeneng atau Kecamatan Karangbinangun. Berjarak sekitar 10 km dari Desa Kediren. Selain masalah jarak tempuh, kondisi benur sering kali menjadi tidak sehat karena kurangnya oksigen atau paparan terik matahari selama perjalanan.

Namun, kendala tersebut kini berangsur mendapatkan solusi setelah Pelda Imam Syafi'i memulai usaha pembibitan benur vaname di areal persawahan Desa Kediren. Pelda Imam merupakan warga asli Desa Kediren RT 03/01 yang saat ini berdinas sebagai Babinsa.

Para pekerja membungkus benur udang vaname dalam kantong plastik sebelum diambil oleh para pembeli (dok/bas)

"Jadi awalnya saya berpikir, bagaimana udang vaname ini bisa bertahan di wilayah air tawar karena biasanya di air payau. Hal ini karena saya bertugas jadi Babinsa yang desanya dekat dengan Bengawan Solo," kata Imam beberapa hari yang lalu, dikutip dari Jawa Pos.

Di tengah kesibukannya sebagai Babinsa, Pelda Imam selalu memanfaatkan waktu luang sepulang kerja untuk mengembangkan usaha pembibitan benur vanamenya. Usaha yang digeluti selama sekitar enam tahun tersebut kini sudah nampak perkembangannya.

Imam menuturkan, saat awal memulai usaha dia biasanya mampu menjual 25 rean per hari kepada para petani tambak. Istilah rean merupakan satuan bibit benur yang berarti sebanyak 5.000 ekor. Namun, saat ini rata-rata permintaan mencapai 100-200 rean per hari, bahkan dia sampai membuat waiting list para pembelinya.

"Alhamdulillah, berkah usaha dan terobosan saya selama ini berhasil. Dalam proses penjualan atau packing, saya merekrut tenaga kerja desa sehingga membantu perekonomian masyarakat sekitar," pungkasnya./bas

Kontributor Bassorich
Editor Tim Redaksi
Lebih baru Lebih lama