Budidaya Puyuh Petelur yang Cukup Menjanjikan

Kondisi kandang budidaya puyuh petelur milik Nurianto. Tampak sebagian burung puyuh bertelur di siang hari (dok/bas)

Kediren - Saat ini masyarakat telah memiliki kesadaran yang cukup tinggi akan pentingnya gizi seimbang dan konsumsi protein hewani. Berbagai asupan mereka konsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi dan protein tersebut, terutama daging unggas dan telur. Tingginya permintaan menjadikan usaha di bidang peternakan unggas cukup diminati.

Tak bisa dimungkiri, komoditas ayam pedaging dan ayam petelur memang masih menjadi primadona di masyarakat. Akan tetapi, terdapat komoditas unggas lainnya yang berpotensi menghasilkan peluang pasar yang tak kalah besar, yaitu budidaya puyuh petelur.

Peluang itulah yang ditangkap dengan sigap oleh Nurianto, warga Desa Kediren RT. 04/02. Dengan pengetahuan yang diperoleh dari komunitas di media sosial, dia memberanikan diri memulai usaha budidaya puyuh petelur. Selain itu, usaha tersebut juga bisa dimulai dengan modal yang kecil serta bisa dikembangkan di lahan rumahan.

Ukuran burung puyuh yang kecil membuatnya tak membutuhkan lahan yang luas. Kandang burung puyuh dapat disusun bertingkat sehingga memudahkan pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis budidaya puyuh petelur di lahan yang terbatas. 

Bangunan kandang budidaya puyuh petelur yang baru milik Nurianto. Tampak baru sebagian yang terisi (dok/bas)

Terbatasnya pengetahuan serta minimnya teman sharing di wilayah Kecamatan Kalitengah membuat Nurianto sering kali merasa gelisah pada awal memulai usaha. "Biyen kawitan yo waswas. Tak kiro wes wayahe ngendok, kok durung ngendok. Ternyata salah vitamine," katanya, Minggu (16/07/2023) di area kandang budidaya.

Menurut Nurianto, proses pertumbuhan burung puyuh dari bibit puyuh betina hingga siap bertelur melawati beberapa fase dengan kebutuhan nutrisi yang berbeda-beda. "Ojo kesusu langsung dikei vitamin cek ngendok, pancen durung wayahe ngendok. Durung umure," ujarnya.

Namun, berbekal pengetahuan otodidak yang dipelajari selama tiga tahun tersebut, kini Nurianto berhasil mengembangkan usahanya dengan cukup baik. Dengan populasi puyuh sekitar 6.000 ekor yang dibudidayakan, dia bisa memanen sekitar 1,5 ton telur puyuh per bulan.

Telur puyuh dibungkus per 1 kilo agar memudahkan saat masyarakat membeli kiloan (dok/bas)

Faktor lain yang tak kalah penting, tentu saja adalah stabilitas harga. Nurianto menjelaskan, ada kesepakatan tidak tertulis dari komunitas pelaku usaha puyuh petelur agar tidak jor-joran harga di pasar. Sehingga harga terkendali dan tidak merugikan sesama pelaku usaha.

Puyuh yang bertelur secara produktif, biaya perawatan yang relatif murah, dan harga jual yang stabil menjadikan usaha di bidang budidaya unggas ini dinilai cukup prospektif dan menjanjikan.

Hal ini menjadikan banyak kalangan tertarik untuk belajar, baik dari masyarakat luar maupun sesama anggota komunitas. "Alhamdulillah, iki wes mulai hasil. Nek ono seng kepengen belajar, mreneo. Akeh wong njobo seng dolan mrene. Ayo belajar bareng," pungkasnya. [bas]

Kontributor Bassorich
Editor Tim Redaksi
Lebih baru Lebih lama